CANGKRUKAN ternyata mempunyai arti budaya mendalam bagi bangsa kita. Cangkrukan dimaksud di sini dalam arti konvensional, yakni cangkruk, jagongan atau kongkow di depan rumah atau di tepi jalan kampung dengan para tetangga di desa.
Dan, bukan cangkrukan ala modern life style. Yakni cangkruk di cafe, pub, bar atau diskotek dengan rekan bisnis atau teman wanita.
Aktivitas cangkrukan di kampung umumnya dilakukan secara alamiah tanpa ada janjian (appointment) dulu dengan tetangga sebagai partner cangkruk kita.
Budaya cangkruk seperti ini ternyata tidak mudah ditemukan di negara lain, seperti misalkan di Australia.
Saat saya tinggal di Millmerran, salah satu kawasan pedesaan di Queensland, Australia, budaya cangkrukan ala kampung Indonesia itu tak ditemukan.
Bila malam hari, saya dan orang tua angkat (host parents) dan juga warga lainnya hanya menghabiskan waktu di
dalam rumah. Kami hanya menonton acara teve sambil menikmati kopi Brazil dan camilan biscuit.
Kondisi di luar rumah, udaranya dingin sekali. Suasananya juga sepi. Penerangan jalan desa (rural area) pun minim.
Untuk diketahui, Desa Millmerran sendiri terletak sekitar 18 kilometer dari Kota Toowoomba. Toowoomba sendiri sekitar dua jam perjalanan dari Kota Brisbane, ibu kota negara bagian Queensland.
Queensland sendiri banyak memiliki objek wisata pantai. Pantai-pantainya dikenal sebagai sunshine coasts. Salah satunya Gold Coast–yang namanya sudah mendunia. Disebut sunshine karena kondisi udaranya cukup panas bila siang hari. Matahari bersinar terik.
Meski demikian, bila malam hari, kondisi udara di Brisbane, Toowoomba dan Millmerran sangat dingin sekali. Begitu juga kota-kota lain di Queensland.
Balik ke aktivitas cangkrukan, bila kami ingin keluar rumah misalkan bertandang ke rumah tetangga–kami harus membuat janji dulu via telepon. Kami tak bisa ujug-ujug ke rumah tetangga untuk dan mengajaknya cangkrukan.
Kondisi itu tentu saja berbeda dengan di Indonesia. Di kampung Indonesia, bila malam hari, suasananya ramai sekali. Banyak ditemui orang cangkrukan. Saya bisa ke rumah tetangga dan mengajaknya cangkruk tanpa janji dulu.
Susana cangkrukan di Indonesia seperti itu yang saya rindukan ketika di Australia. Hal ini membuat saya ingin cepat pulang kampung.
Perasaan seperti ini merupakan gejala homesick. Padahal di Millmerran, saya baru tinggal sekitar dua bulan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila saya tinggal puluhan tahun di kota ini. Saya kemungkinan bisa menjadi orang yang individualis, selfish dan tidak socialized dengan tetangga.
Seorang rekan wanita yang tinggal di Kota Pitsworth–sekitar 9 kilometer dari Millmerran, ternyata juga mengalami homesick. Kadar sakitnya terbilang cukup extrem. Setiap hari, dia menangis ingat orangtuanya dan ingin balik ke kampungnya. Dia pun melingkari tanggal-tanggal di kalender; menghitung hari ingin segera balik ke Indonesia. Dia rindu dengan suasana Indonesia yang people-nya ramah, akrab dan diajak cangkrukan di manapun tempatnya..
****
Balik ke aktivitas saya di Millmerran pada malam hari. Setelah menonton teve sampai mengantuk, saya lantas tidur. Bed cover tebal atau selimut harus menyelimuti tubuh bila ingin tidur pulas.
Aktivitas nonton teve, ngantuk dan tidur seperti itulah yang kami lakukan setiap hari. Dan, semuanya terasa menjemukan.
Bagaimana warga desa setempat cangkrukan? Mereka biasanya pergi ke café tidak jauh dari rumah. Di café itu, sudah berkumpul para tetangga. Di café itu, juga tersedia menu makan malam dan camilan. Dilengkapi juga alat hiburan, dua meja billiard dan empat mesin jackpot.
Kami dan para tetangga baru bisa mengobrol di situ. Kami cangkruk di café juga tidak setiap hari. Karena, cangkruk di situ tentunya membutuhkan biaya. Sekitar satu jam di café, kami baru pulang ke rumah.
Bagaimana warga kota cangkrukan? Selain di café, warga kota biasanya kongkow di gym atau tempat olahraga. Saat tinggal di Brisbane, saya pernah diajak anak orang tua angkat ke gym sekitar pukul 20.00. Jam segitu udara di luar dingin sekali.
Sebelum tiba di gym, kami mampir dulu ke pom bensin atau SPBU 77 yang ada supermarket-nya. Di situ, kami membeli minuman dingin. Dan di SPBU itu sendiri buka 24 jam.
SPBU plus supermarket itu sudah umum di Australia sejak 20 tahun lalu. Namun, usaha itu di Indonesia baru dirilis tiga tahun terakhir
Tiba di gym, kami olahraga squash. Usai olahraga, kami bisa mengobrol dengan rekan-rekan. Tentunya cangkruk model ini juga mengeluarkan biaya. Cangkruk seperti ini juga berbeda dengan cangkruk ala kampung di Indonesia yang murah, meriah dan bersahaja.
Cangkrukan
04.59 |
Label:
santai dulu....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar